Artikel Terbaru
Intro : Aku ingin seperti bos yg selalu memakai sepatu produk perusahaan ini; Aku ingin makan di restoran tempatku bekerja yang suasananya sangat pas untuk keluarga Aku ingin jalan - jalan dengan mobil yg ber-AC biar keluargaku bahagia Aku punya banyak keinginan. Tapi aku harus naik bajaj untuk menjumpai calon client yang mau beli mobil Karena bos tidak mau minjemin mobil dinasnya Besok aku akan pindah kontrakkan, biar orang tidak pernah tahu bahwa aku bekerja sebagai tukang jual rumah, namun aku sendiri belum dan mungkin bahkan tidak akan mampu walau mencicil rumah di tempat saya bekerja Memang aku bekerja di situ untuk mencari uang. Bukan untuk kembali memberi perusahaan uang yang aku terima Dan tidak ada perjanjian kalau aku harus memakai produk dari perusahaan Mungkin aku mau dan bisa, jika aku diberi kesempatan.
Cara sederhana yang digunakan oleh perusahaan untuk membuat karyawannya mengkonsumsi produk sendiri adalah dengan membagikan produk tersebut secara gratis tiap akhir bulan, pada hari gajian. Ini bisa diterapkan oleh perusahaan produk-produk consumer goods yang harganya nggak seberapa, tetapi impactnya tinggi untuk promosi. Waktu teman saya kerja di Unilever, ditanggung deh promosi mulai dari blue band, teh sariwangi sampai Sunsilk ke saudara dan tetangga... karena jatahnya nggak habis dipakai sendiri. Teman saya yang lain juga, waktu kerja di Susu Bendera, sudah pasti semua saudara-saudara tiba-tiba ganti merek susu semua karena dipancing trigger produk pembagian jatah saya bulanan dari kantor. Makanya saudara-saudara selalu bilang, sebaiknya saya kerja di perusahaan mobil aja, biar mereka juga kebagian jatah mobil gratis.. Hmm... whos knows ?Intinya, ini merupakan learning dari common practise yang bagus banget dari perusahaan yang mau spend "nggak seberapa" untuk karyawannya berupa produk gratis setiap bulannya, tetapi berdampak word of mouth communicationnya tinggi. Manfaat lainnya, sebagai brand manager waktu itu, saya juga menggali banyak sekali insight dari saudara-saudara dan tetangga para pemakai produk hasil pembagian tersebut. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Kalau brand yang dikeluarkan unilever, jangankan kasih gratis, beli saja ternyata banyak yang beli buktinya produknya jadi leader di mana-mana, bagaimana kalau produk yang notabene brandnya belum dikenal? Belum lagi kalau produknya tidak bagus, seperti kasus saya menangani satu bank, wong CEO nya saja pakai produk pesaing kalau brand belum terkenal kemudian bagi-bagi produk dan lebih celakanya lagi produknya malah dicibir dan kemudian malah dikasih ke pembantu? Hehehehe.
Itulah perlunya membuat setiap karyawan menjadi Brand Ambasador. Ini masalah klasik dan sekarang ini banyak ditemui di berbagai perusahaan. pertanyaan sederhana selalu muncul, kalau yang jualan produk itu sendiri tidak menggunakan produknya, so? Hal yang sekarang banyak ditemui adalah di dunia perbankan dimana meskipun kerja di bank tetapi cuma untuk transfer gaji tok - satu hari - setelah itu semua uang ditransfer ke (mostly) BCA hahahahaha.. Even salah seorang CEO bank terbesar di Indonesia mengakui sendiri kalau dia juga menggunakan BCA as the main bank. :-P Ujung2nya mau tidak mau ya dilihat value dari product juga terlepas mau kerja dimana, malah bisa2 setelah kerja di suatu tempat, malah lebih tahu dan lebih sadar kalau brand atau product dia ternyata tidak seindah yang dibayangkan, kalau beginian sih case yang agak special.
Jika consumer aja perlu dijadikan brand evangelist (lebih keren dari sekedar ambassador), apalagi karyawan. Yang sering terdengar ya karyawan bukan jadi brand ambassador malah jadi brand adversary. Pertanyaannya: How to make them brand ambassadors? Not an easy question Ya karena banyak pengusaha dalam memproduksi produk atau jasa-nya tidak sincere.
How can they be ambassadors? Bagaimana membuat karyawan merasa diperlakukan secara fair, atau mendapatkan perhatian dan penghargaan seperti yang mereka harapkan (lagi-lagi perceptions), mendapatkan satisfaction, mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan exciting. So, ya akhirnya loyal. Bagaimana membuat karyawan sendiri tidak berselingkuh setia terhadap produk sendiri. Karyawan adalah customer juga (internal customer nama kerennya), jadi untuk membuat mereka loyal ya mestinya sama dengan membuat loyal (external) customer kita.
Bagaimana dengan produk anda?
any other comments please......
by Wiet --- PT. aPL
bwicaksono@apl-support.net